Minggu Malam, 13 Maret 2011, jadi salah satu hari bersejarah buat gue dan generasi 90an lain yang sengaja hadir di PRJ Kemayoran untuk nostalgia bertemu dengan salah satu band yang bisa dibilang dewa “Grunge” di luar Seattle Sound, Stone Temple Pilots (STP)! Mereka memang kebetulan lagi world tour untuk promosi album terbaru mereka.
Gue hadir jam 7, waktu yang pas karena 2 band pembuka menyambut dan menemani sebelum pintu gerbang dibuka. Suasana Kemayoran saat itu penuh dengan manusia umur 30an memakai baju hitam atau kemeja flanel, mengeluarkan koleksi Doc Mart-nya yang sudah berdebu, atau sepatu converse canvaas yang sudah mulai kekecilan, sebagian kecil memperlihatkan tattoo yang (mungkin) mereka buat saat-saat mereka masih kuliah dulu. SPG rokok dan bir menjajakan dagangan, sungguh pas untuk konser salah satu maestro Rock yang dalam 2 jam kemudian akan tampil. Bebas dari ABG, yang cuma kenal musik rock modern tanpa menelusuri siapa band yang mereka puja sekarang, terinspirasi dari band rock 80-90an, seperti STP salah satunya.
Jam 8 kurang, gate dibuka, semua berhamburan masuk dan cari posisi yang pas untuk menikmati STP malam itu. Cuma 15 menit, area terbuka PRJ tersebut sudah mulai penuh, gue beruntung dapat posisi di kanan panggung cuma selisih 4-5 kepala dari posisi paling depan. Seketika itu juga sudah terlihat band pembuka utama sudah bersiap-siap di pinggir panggung. Dan…. The Flowers langsung masuk, seketika itu pula massa mulai heboh. Flowers menampilkan Bongky, pemain bass formasi awal band legendaris tersebut. Sebuah formasi legend yang maksimal, karena personil pionir lain band tersebut sudah almarhum, Cole dan Chillin’ sudah duluan menghadap Sang Pencipta. 2 lagu dari album terbaru dibawakan, lanjut dengan cover lagu anak-anak ciptaan Bapak AT. Mahmud “Ambilkan Bulan” cukup membuat penonton terhibur. Saat Flowers mulai membawakan “Bayangan” hits mellow dari album pertama, beberapa penonton mulai bernyanyi nostalgia, “Ga Ada Matinya” dan “(Tolong) Bu Dokter” memanaskan suasana, ditutup “Rajawali” tembang jagoan dari album terakhir. N’jet, Boris, Bongky, Dado memberi hiburan pemanasan terbaik malam itu, Eugene menyita perhatian penonton dengan permainan Saxophone-nya yang sungguh mantap. Sementara cukup dari The Flowers.
Suasana kembali tenang, sekitar 15 menit bule-bule kekar seliweran di panggung, menyiapkan panggung, menyiapkan tempat yang layak untuk kedatangan sang maestro. Konser kali ini cukup tepat waktu, sempat terbesit kekhawatiran akan sound, karena live video yang ditampilkan saat kami menunggu sungguh teramatlah buruk. Spanduk gambar album terbaru sudah naik di panggung, maraca (baca: kecrekean latin) dan megaphone sebagai atribut sang vokalis sudah disiapkan. Robert DeLeo, Eric Kretz sudah terlihat bersiap di kanan panggung, berarti sesaat lagi Stone Temple Pilots akan hadir, detik-detik yang mendebarkan…













